Berita15 - Iklan apa yang paling diingat dan menjadi legenda di Indonesia ? Apakah iklan rokok ? Atau iklan mobil ? Motor ? Makanan ? Minuman ? Property ? Jawabannya bukan iklan itu semua, tapi iklan Partai Demokrat sewaktu kampanye di pemilu tahun 2009 silam, dengan tagline ‘Katakan Tidak Pada Korupsi’ dan diperankan oleh bintang iklan yang juga kader partai demokrat yang lolos dan terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 antara lain ; Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, Ibas Yudhoyono, Tere, dan presiden SBY.
Iklan tersebut hampir tiap hari memenuhi televisi nasional, baik pagi, siang atau malam. Entah berapa modal yang dihabiskan oleh Partai Demokrat untuk membayar ke televisi terkait penayangan iklan tersebut. Sebagai catatan, untuk iklan dengan durasi 30 detik yang tayang pada prime time (jam 19.00-21.00) biayanya sekitar Rp 300 juta sekali tayang (informasi dari bagian marketing salah satu televisi). Entah darimana biaya iklan tersebut menjadi pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan berapa besar biaya yang dikeluarkan demi iklan politik yang terbukti ampuh memikat hati rakyat sehingga memilih partai demokrat dan kader-kadernya, sehingga perolehan suara partai demokrat di pemilu 2009 mencapai 21% suara nasional, angka yang sangat tinggi dibanding perolehan suara tahun 2004 yang hanya mencapai 7% suara nasional.
Cerita kesuksesan tersebut kini tinggal cerita pengantar tidur saja, satu persatu bintang iklan anti korupsi partai demokrat berguguran. Tere mengundurkan diri dari DPR karena ada permasalahan keluarga yang menyebabkan ia sering bolos dari sidang dan rapat di DPR RI. Ia mundur sebelum Badan Kehormatan mengeluarkan rekomendasi pemecatan secara tidak hormat, karena tingkat kehadirannya yang sangat minim. Anas, Andi, dan Angie sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, dan akan menghabiskan banyak waktunya dipenjara.
Saran saya pergunakan waktu dipenjara sebaik mungkin, Anas bisa menulis buku yang akan dijual untuk kita baca bersama-sama diberbagai kesempatan, Andi bisa membuat catatan dinamika politik di tanah Air karena terbukti Andi lebih cakap menjadi pengamat politik dibanding menjadi menteri, Angie bisa belajar masak dan salon di rutan pondok bambu, sehingga keluar penjara bisa buka restoran dan salon yang pasti halal dibanding malak sana malak sini minta jatah preman berupa apel malang dan apel washington yang sangat digemari bos besar Anas Urbaningrum dan ketua besar Mirwan ‘bang ucok’ Amir.
Ibas santer disebut-sebut menerima sejumlah uang (USD 200.000 dan banyak lagi lainnya yang belum terungkap ke publik) terkait dengan jabatannya sebagai sekjen partai demokrat dan anggota DPR RI. KPK sedang memvalidasi keterangan-keterangan tersebut, dan jika hasil validasi dari KPK terkonfirmasi, maka Ibas akan menyusul rekan model iklan PD lainnya sebagai Tersangka di KPK, untuk selanjutnya ditangkap dan ditahan KPK. SBY sendiri telah 2 periode menjadi presiden RI, dipastikan tahun ini tak bisa maju jadi presiden yang ke 3 kalinya, sehingga dipastikan tahun depan SBY banyak waktu luang untuk MC (Momong Cucu).
Saran saya baik-baiklah kepada musuh politik agar tidak dipolitisasi secara hukum dan menyusul kader-kader partai Demokrat yang sudah berkumpul di rutan Guntur dan rutan Cipinang. Tagline ‘Katakan tidak pada korupsi’ saat ini sering diplesetkan banyak orang menjadi ‘katakan tidak, padahal korupsi’. Intinya jika ada tuduhan kepada kader partai demokrat bahwa ia melakukan korupsi atau menerima gratifikasi / suap, segera bantah bahwa tuduhan tersebut tidak benar, jika perlu katakan bahwa 1000% atau 1000000% tuduhan itu bohong, fitnah, dan hanya halusinasi atau khayalan pihak-pihak yang ingin partai demokrat hancur. Hehehehe, padahal partai demokrat hancur karena perilaku kadernya yang korupsi sadis dibalik kesantunan sikap politiknya.
Sungguh miris nasib politikus muda dan berbakat di partai demokrat, dari model iklan jadi tahanan dan dicaci serta dimaki banyak orang, lebih baik Anton Medan atau Yusuf Mansyur, dari tahanan menjadi ustad dan disegani serta dihormati banyak orang. Mereka contoh buruk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pepatah untuk memotivasi diri yang sering kita dengar ; ‘From zero to hero, from nothing to something’, mereka ubah sehingga menjadi ‘From hero to zero, from something to nothing.’ Semoga generasi politikus muda bangsa ini berikutnya tidak meniru contoh buruk dari politikus muda partai demokrat.
(Berita15/Pak De Karto/KCM/Rimanews)
Iklan tersebut hampir tiap hari memenuhi televisi nasional, baik pagi, siang atau malam. Entah berapa modal yang dihabiskan oleh Partai Demokrat untuk membayar ke televisi terkait penayangan iklan tersebut. Sebagai catatan, untuk iklan dengan durasi 30 detik yang tayang pada prime time (jam 19.00-21.00) biayanya sekitar Rp 300 juta sekali tayang (informasi dari bagian marketing salah satu televisi). Entah darimana biaya iklan tersebut menjadi pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan berapa besar biaya yang dikeluarkan demi iklan politik yang terbukti ampuh memikat hati rakyat sehingga memilih partai demokrat dan kader-kadernya, sehingga perolehan suara partai demokrat di pemilu 2009 mencapai 21% suara nasional, angka yang sangat tinggi dibanding perolehan suara tahun 2004 yang hanya mencapai 7% suara nasional.
Cerita kesuksesan tersebut kini tinggal cerita pengantar tidur saja, satu persatu bintang iklan anti korupsi partai demokrat berguguran. Tere mengundurkan diri dari DPR karena ada permasalahan keluarga yang menyebabkan ia sering bolos dari sidang dan rapat di DPR RI. Ia mundur sebelum Badan Kehormatan mengeluarkan rekomendasi pemecatan secara tidak hormat, karena tingkat kehadirannya yang sangat minim. Anas, Andi, dan Angie sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, dan akan menghabiskan banyak waktunya dipenjara.
Saran saya pergunakan waktu dipenjara sebaik mungkin, Anas bisa menulis buku yang akan dijual untuk kita baca bersama-sama diberbagai kesempatan, Andi bisa membuat catatan dinamika politik di tanah Air karena terbukti Andi lebih cakap menjadi pengamat politik dibanding menjadi menteri, Angie bisa belajar masak dan salon di rutan pondok bambu, sehingga keluar penjara bisa buka restoran dan salon yang pasti halal dibanding malak sana malak sini minta jatah preman berupa apel malang dan apel washington yang sangat digemari bos besar Anas Urbaningrum dan ketua besar Mirwan ‘bang ucok’ Amir.
Ibas santer disebut-sebut menerima sejumlah uang (USD 200.000 dan banyak lagi lainnya yang belum terungkap ke publik) terkait dengan jabatannya sebagai sekjen partai demokrat dan anggota DPR RI. KPK sedang memvalidasi keterangan-keterangan tersebut, dan jika hasil validasi dari KPK terkonfirmasi, maka Ibas akan menyusul rekan model iklan PD lainnya sebagai Tersangka di KPK, untuk selanjutnya ditangkap dan ditahan KPK. SBY sendiri telah 2 periode menjadi presiden RI, dipastikan tahun ini tak bisa maju jadi presiden yang ke 3 kalinya, sehingga dipastikan tahun depan SBY banyak waktu luang untuk MC (Momong Cucu).
Saran saya baik-baiklah kepada musuh politik agar tidak dipolitisasi secara hukum dan menyusul kader-kader partai Demokrat yang sudah berkumpul di rutan Guntur dan rutan Cipinang. Tagline ‘Katakan tidak pada korupsi’ saat ini sering diplesetkan banyak orang menjadi ‘katakan tidak, padahal korupsi’. Intinya jika ada tuduhan kepada kader partai demokrat bahwa ia melakukan korupsi atau menerima gratifikasi / suap, segera bantah bahwa tuduhan tersebut tidak benar, jika perlu katakan bahwa 1000% atau 1000000% tuduhan itu bohong, fitnah, dan hanya halusinasi atau khayalan pihak-pihak yang ingin partai demokrat hancur. Hehehehe, padahal partai demokrat hancur karena perilaku kadernya yang korupsi sadis dibalik kesantunan sikap politiknya.
Sungguh miris nasib politikus muda dan berbakat di partai demokrat, dari model iklan jadi tahanan dan dicaci serta dimaki banyak orang, lebih baik Anton Medan atau Yusuf Mansyur, dari tahanan menjadi ustad dan disegani serta dihormati banyak orang. Mereka contoh buruk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pepatah untuk memotivasi diri yang sering kita dengar ; ‘From zero to hero, from nothing to something’, mereka ubah sehingga menjadi ‘From hero to zero, from something to nothing.’ Semoga generasi politikus muda bangsa ini berikutnya tidak meniru contoh buruk dari politikus muda partai demokrat.
(Berita15/Pak De Karto/KCM/Rimanews)
Label:
Berita Hukum,
Berita Korupsi,
Berita Politik


